• cloud

  • scraps

FIRST NOVEL

Epilog

Memulainya yang susah. Tidak tahu harus menceritakan apa. Kondisi apa yang akan digambarkan pertama kali. Serangkaian adegan sudah banyak berkelebatan di dalam kepala. Bahkan sudah bermunculan beberapa buah tema baru untuk cerita-cerita yang lain. Rasanya sudah tidak sabar untuk bercerita. Tapi untuk menuangkan dalam kata-kata seperti memulai melangkah di atas balkon yang seluruhnya terbuat dari kaca. Tahu bisa menapak, tapi takut untuk melangkah.

Jari kelingking sudah siap menekan tombol shift, untuk memulai satu kata yang dimulai dengan huruf kapital. Tekan, lepas dan tekan lagi sambil tekan huruf s untuk ‘Suatu hari’. Namun backspace berlaga. Layar kembali blank. Entah untuk berapa kali ia melakukan itu berulang-ulang. Merancang pendahuluan untuk buku yang hendak ia buat.

“Argh…!!!” jeritnya, “untuk apa kau lakukan itu?” seru perempuan itu sambil memukul bahu orang yang mengagetkannya.

“Sudah hampir dua jam kau berkutat dengan blank document. Telephone bordering berkali-kali pun tidak kauangkat. Tadi ibumu menanyakan kapan mau ambil pesananmu?”

“Hah, apa?” meski tadi ia terkejut, matanya masih tetap berkabut belum benar-benar terbangun dari word processor yang dihadapinya tadi.

Teman gadis itu berlalu sambil mendesah, “ibumu,” serunya. Sang teman meletakkan secarik kertas berisi pesan untuk si gadis.

Gadis itu melirik kertas tadi, lalu mengangkat bahu. Ibu bisa menyuruh orang untuk mengantarkannya padaku, pikir si gadis. Ia kembali pada layar.

Teman gadis itu berdecak, ditariknya tangan si gadis supaya beranjak dari kursi dan mengikutinya.  Ia berkata, “ayo, akan aku bawa kamu ke tempat di mana kamu bisa mendapatkan yang kamu mau.”

“Memang apa yang aku mau,” seru si gadis sambil sedikit terseret di belakang temannya itu.

“Ide.”

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!